Gus Abbas Buntet: Loyalitas pada Ulama dan Peringatan Bahaya Radikalisme
Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan sejumlah ulama terkemuka, termasuk penceramah utama Dr. Sayid Abbas Billi Yahsyi Al-Husaini dari Buntet Cirebon. Dalam ceramahnya, ia mengajak umat Islam untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap ajaran Islam yang damai, toleran, dan berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini menjadi fondasi NU.
Loyalitas Santri dan Kiai sebagai Pilar Perjuangan
Salah satu tema utama yang mengemuka adalah hubungan emosional yang kuat antara santri dan kiai. Dalam narasi yang disampaikan, digambarkan bagaimana masyarakat melepas kepergian para kiai dengan tangis haru, penuh harapan agar mereka kembali membawa ilmu dan keberkahan.
“Kepada kiai kami haturkan, jiwa dan raga kami pasrahkan demi memenuhi panggilan jihad yang mulia,” menjadi salah satu kutipan yang menggambarkan betapa dalamnya penghormatan masyarakat terhadap ulama.
Tradisi ini disebut sebagai kekuatan spiritual yang menjadi ciri khas masyarakat pesantren, khususnya di Madura dan Jawa. Loyalitas tersebut tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga menjadi energi sosial dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
NU dan Sejarah Perjuangan Bangsa
Ceramah juga menyoroti peran historis Nahdlatul Ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui Resolusi Jihad tahun 1945. Dalam peristiwa tersebut, para ulama menyerukan kewajiban mempertahankan tanah air sebagai bagian dari jihad fi سبيلillah.
Disampaikan bahwa meski tidak memiliki persenjataan modern, kekuatan spiritual berupa doa, selawat, dan keyakinan kepada Tuhan menjadi faktor utama kemenangan melawan penjajah. Hal ini dianggap sebagai bentuk “nusratun minallah” atau pertolongan dari Allah.
“NU tidak punya senjata, tapi punya kekuatan langit,” ungkap penceramah, menggambarkan keyakinan bahwa kemenangan bukan semata karena kekuatan fisik, melainkan karena keberpihakan Tuhan kepada mereka yang berjuang di jalan-Nya.
Kritik terhadap Radikalisme dan Takfirisme
Di sisi lain, ceramah tersebut juga memuat kritik tajam terhadap kelompok-kelompok yang dianggap membawa paham radikal, khususnya yang gemar mengkafirkan sesama Muslim (takfirisme).
Penceramah mengisahkan sejumlah peristiwa tragis, baik di luar negeri maupun di Indonesia, yang dikaitkan dengan pemahaman keagamaan ekstrem. Salah satu kisah yang disampaikan adalah tentang seorang ibu dan anak yang menjadi korban kekerasan hanya karena berselawat kepada Nabi Muhammad.
Kisah lain yang lebih dekat terjadi di Indramayu, di mana seorang kiai dan keluarganya menjadi korban serangan brutal oleh pelaku yang diduga terpapar paham radikal. Peristiwa tersebut disebut sebagai bukti nyata bahaya ideologi keagamaan yang menyimpang.
“Ini bukan Islam, ini kezaliman yang dibungkus agama,” tegas penceramah.
Ia menambahkan bahwa paham seperti ini tidak hanya merusak citra Islam, tetapi juga mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak diam ketika melihat ketidakadilan dan kekerasan atas nama agama.
Islam Nusantara sebagai Solusi
Dalam konteks global, penceramah menyoroti kondisi negara-negara Timur Tengah yang dilanda konflik berkepanjangan akibat perpecahan internal umat Islam. Ia menyebut bahwa praktik saling mengkafirkan telah menjadi salah satu penyebab utama kehancuran di negara seperti Suriah, Libya, dan Afghanistan.
Sebagai alternatif, ia menawarkan konsep Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama sebagai model Islam yang damai, inklusif, dan sesuai dengan budaya lokal.
“Di sinilah NU hadir sebagai solusi dunia. Islam yang ramah, bukan marah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menjaga stabilitas sosial tidak lepas dari peran ulama dan tradisi keagamaan yang moderat.
Keyakinan akan Kemenangan NU
Dalam bagian akhir ceramahnya, penceramah menyampaikan keyakinan kuat bahwa NU akan terus bertahan dan menang dalam menghadapi berbagai tantangan.
Keyakinan ini didasarkan pada konsep teologis bahwa ulama adalah pewaris nabi (al-ulama waratsatul anbiya) yang memiliki keistimewaan spiritual. Dengan demikian, perjuangan mereka diyakini selalu mendapat pertolongan ilahi.
“Yang memenangkan NU bukan manusia, tapi Allah,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin, yang tampak semakin bersemangat mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Seruan untuk Persatuan dan Kewaspadaan
Acara haul ini tidak hanya menjadi ajang doa dan zikir, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami tantangan keagamaan di era modern. Pesan yang disampaikan jelas: umat Islam harus bersatu, menghormati ulama, dan waspada terhadap ideologi yang merusak.
Dengan semangat jihad yang dimaknai sebagai perjuangan moral dan spiritual, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, diharapkan masyarakat dapat menjaga harmoni dan kedamaian di tengah keberagaman.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, suara dari mimbar-mimbar seperti ini menjadi pengingat bahwa agama seharusnya menjadi sumber kasih sayang, bukan permusuhan.

